Penjajahan pemikiran

Di negeri yang merdeka di atas kertas,
rantai tak lagi berbunyi dari besi,
ia menjelma kurikulum tanpa nurani,
menjelma iklan yang pandai menyamar janji.

Kita tak lagi dijajah senjata,
tapi oleh angka, oleh data, oleh wacana.
Pikiran dibingkai pelan-pelan,
hingga yang salah tampak wajar,
yang jujur terasa ganjil.

Masyarakat ditidurkan oleh gemerlap,
oleh kata “kemajuan” yang tak semua merasakan.
Siswa diajari menghafal tanpa bertanya,
mengejar nilai tanpa makna,
menjadi pasar sebelum menjadi manusia.

Buku kadang kehilangan ruh,
kelas kehilangan tanya,
guru diburu target,
anak diburu masa depan yang bahkan tak ia pahami.Di layar kecil yang tak pernah padam,
kebenaran dan kebohongan berdansa bersama.

Siapa yang paling keras,
ia yang dianggap benar.

Lalu kita bertanya
apakah ini akan berhenti?
Ia tak berhenti oleh waktu.
Ia tak runtuh oleh keluhan.
Ia berhenti ketika satu pikiran berani merdeka,ketika satu siswa berani bertanya,ketika satu guru berani jujur,
ketika satu rakyat berani membaca dengan sadar.

Penjajahan pemikiran tak punya wajah,
tapi ia takut pada cahaya.Dan cahaya itu
adalah literasi,adalah kesadaran,
adalah keberanian untuk tidak diam.
Maka jika kita bertanya apakah ini akan berhenti,jawabnya ada di tangan kita sendiri:Selama kita memilih berpikir,
selama kita memilih bertanya,
penjajahan itu perlahan akan retak—
dan bangsa ini kembali menemukan dirinya.

Admin
Author: Admin

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *