Empat Rudal Balistik Hantam USS Abraham Lincoln? Iran Klaim Serangan, Pentagon Bantah

SAKABACA.ONLINE – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat tajam. Militer Iran melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menyerang kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, di kawasan Teluk pada Minggu waktu setempat.

Dalam pernyataan yang dimuat media lokal dan dikutip AFP, IRGC menyebut kapal induk tersebut dihantam empat rudal balistik sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang sebelumnya menewaskan pemimpin tertinggi Iran.

“Kapal induk AS Abraham Lincoln dihantam oleh empat rudal balistik,” bunyi pernyataan tersebut. IRGC juga mengeluarkan ancaman keras, menyebut daratan dan laut akan menjadi “kuburan para agresor teroris”.

Pentagon: Rudal Tak Dekat Sasaran

Namun klaim itu langsung dibantah oleh pihak militer AS. Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa kapal induk tersebut tidak terkena serangan.

“Lincoln tidak terkena. Rudal yang diluncurkan bahkan tidak mendekati sasaran,” tulis CENTCOM melalui akun resmi di platform X.

Meski demikian, dalam pernyataan terpisah, CENTCOM mengonfirmasi adanya korban jiwa di pihak militer AS dalam operasi yang dinamai “Operasi Epic Fury”. Tiga anggota militer AS dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka parah. Beberapa prajurit lainnya mengalami luka ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak.

Operasi tempur disebut masih berlangsung dan situasi di lapangan dinilai sangat dinamis. Identitas korban belum diumumkan hingga keluarga diberi pemberitahuan resmi.

Trump Klaim Operasi Berhasil

Presiden AS, Donald Trump, justru menyampaikan pernyataan optimistis. Ia mengklaim bahwa sembilan kapal angkatan laut Iran telah ditenggelamkan dalam operasi militer tersebut.

“Kami telah menghancurkan dan menenggelamkan 9 kapal angkatan laut Iran, beberapa di antaranya relatif besar dan penting,” tulis Trump di akun Truth Social miliknya.

Dalam wawancara dengan media AS, ia juga menyebut 48 pemimpin Iran tewas “dalam satu tembakan”, meski tidak merinci lebih jauh. Trump menyatakan terbuka pada negosiasi, namun belum bisa memastikan kapan hal itu akan dilakukan.

Kritik dari Kongres

Di dalam negeri, langkah militer Trump menuai kritik. Pemimpin Demokrat di DPR AS, Hakeem Jeffries, mengaku “patah hati” atas jatuhnya korban di pihak militer Amerika.

“Tidak ada lagi pahlawan Amerika yang perlu mati karena keputusan sembrono untuk berperang. Kongres harus bertindak minggu ini untuk menahan presiden ini,” tegasnya.

Situasi ini memperlihatkan konflik yang kian terbuka dan berisiko meluas. Klaim dan bantahan saling berbalas, sementara korban mulai berjatuhan. Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi masih memungkinkan, atau konflik akan terus membesar di kawasan Teluk dan Timur Tengah.

red

Admin
Author: Admin

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *