Generasi ini dilahirkan dalam kebingungan yang disengaja. Hafal iklan, hafal algoritma, hafal cara bertahan hidup—tapi buta politik dan alergi ideologi. Semua dibentuk agar percaya satu hal: berpikir terlalu jauh itu berbahaya. Politik dijauhkan dari ruang kelas, ideologi dipreteli, lalu pendidikan dikemas jadi jalur cepat menuju pasar tenaga kerja. Inilah desainnya.
Kapitalisme tidak datang dengan senjata, ia datang dengan kurikulum. Ia menyusup lewat istilah “kompetensi”, “daya saing”, dan “link and match”. Sekolah dijadikan pabrik, kampus dijadikan showroom, murid dijadikan komoditas. Yang laku dipuji, yang kritis disingkirkan. Nilai bukan lagi soal benar atau salah, tapi soal untung dan rugi.
Generasi tanpa pemahaman politik adalah mimpi basah kapitalisme. Mereka bekerja tanpa bertanya, memilih tanpa sadar, dan patuh tanpa tahu sedang diperas. Negara menyebutnya bonus demografi, pasar menyebutnya sumber daya manusia murah. Pendidikan bertugas memastikan mereka cukup pintar untuk bekerja, tapi cukup bodoh untuk melawan.
Ideologi bangsa dikubur pelan-pelan. Sejarah dipotong agar tak melahirkan perlawanan. Kritik disebut radikal, keberpihakan dicap berbahaya. Yang tersisa hanyalah kepatuhan massal dengan label “netral”. Padahal netralitas dalam sistem timpang hanyalah keberpihakan pada penindasan.
Pendidikan hari ini tidak sedang mencerdaskan, tapi menenangkan. Menenangkan kemarahan, menumpulkan pertanyaan, dan menjinakkan generasi. Anak-anak diajari berlomba, bukan bersolidaritas. Diajar mengejar mimpi pribadi, bukan memperbaiki kerusakan bersama. Kapitalisme menyukainya begitu.
Revolusi pendidikan bukan soal ganti kurikulum atau digitalisasi kelas. Revolusi pendidikan berarti memutus hubungan pendidikan dengan kepentingan pasar. Mengembalikan sekolah sebagai ruang kesadaran, bukan mesin produksi. Mengajarkan politik sebagai alat memahami ketidakadilan, ideologi sebagai kompas, dan pengetahuan sebagai senjata.
Tanpa itu semua, masa depan hanyalah perpanjangan penderitaan yang dikemas modern. Generasi akan terus diproduksi sebagai pekerja patuh dalam sistem yang rakus. Kapitalisme menang, negara pura-pura buta, dan pendidikan berkhianat pada tugas sejarahnya.
Dan ketika kehancuran itu tiba, jangan salahkan generasinya. Mereka tidak bodoh. Mereka diprogram.
Adi
