Ada saatnya dunia tidak lagi terasa seperti tempat yang bisa dipahami.
Bukan karena ia terlalu jauh, tapi karena ia terlalu dekat. Terlalu bising. Terlalu cepat. Terlalu menuntut.
Wajah itu seperti terperangkap di antara dua mata yang membesar—mata yang tidak hanya melihat, tapi dipaksa menyerap semuanya: berita buruk, kegagalan, ketidakpastian, dan harapan yang terus runtuh pelan-pelan.
Air mata bukan sekadar kesedihan, melainkan bentuk tubuh yang menyerah pada tekanan. Seolah-olah realitas menetes keluar karena terlalu berat untuk ditampung di dalam kepala.
Tangan yang mencengkeram wajah adalah simbol pertahanan terakhir.
Bukan ingin melukai diri, tapi ingin menahan sesuatu agar tidak pecah: pikiran, ketenangan, mungkin juga identitas.
Kecemasan seperti ini bukan ketakutan pada satu hal, melainkan ketakutan pada semuanya sekaligus. Ketakutan pada dunia yang tidak bisa dihentikan, pada waktu yang terus berjalan, pada kehidupan yang menuntut jawaban padahal jiwa masih mencari napas.
Gambar ini seperti jeritan tanpa suara—tentang manusia yang melihat terlalu banyak, merasakan terlalu dalam, dan akhirnya tersesat dalam pikirannya sendiri.
Karena kadang, yang paling menakutkan bukan monster di luar sana…
tetapi dunia yang terus menatap balik tanpa memberi ruang untuk kita berhenti.
Karya Jihad
