Garut Sakabaca.online 8 maret 2026 -Di dunia yang semakin bising oleh opini, propaganda, dan kepentingan, membaca menjadi tindakan yang hampir terasa radikal. Orang-orang sibuk berbicara, berdebat, dan menyebarkan narasi, tetapi semakin sedikit yang benar-benar mau memahami. Di tengah kebisingan itu, buku bekerja diam-diam—pelan, tetapi dalam—menanam gagasan dan membongkar ilusi yang selama ini dianggap normal.
The War of Journalism, karya Jihad Abd Mujahid, lahir dari kegelisahan itu. Buku ini berbicara tentang idealisme jurnalisme yang perlahan mati di tengah perang opini dan propaganda. Ketika kebenaran diperebutkan oleh kepentingan, jurnalisme sering dipaksa memilih: tetap berdiri pada fakta atau tenggelam dalam arus narasi yang menguntungkan kekuasaan.
https://vt.tiktok.com/ZSuFKAVUb/
Isi buku ini tidak hanya membahas jurnalisme sebagai profesi, tetapi juga sebagai medan perang informasi di zaman modern. Di era ini, perang tidak selalu terjadi dengan senjata dan pasukan. Ia terjadi di ruang informasi—di media, di layar ponsel, di ruang opini publik—di mana persepsi masyarakat bisa dibentuk, diarahkan, bahkan dimanipulasi.
Karena itu, gagasan dalam buku ini mengambil banyak pelajaran dari taktik dan strategi perang para jenderal serta taktik perang kuno: bagaimana membaca situasi, memahami kekuatan lawan, menguasai medan, dan membangun strategi yang sering kali tidak terlihat di permukaan. Prinsip-prinsip perang yang dahulu digunakan di medan tempur kini hadir dalam bentuk baru: perang narasi, perang opini, dan perang persepsi.
Di zaman ini, berita tidak lagi hanya soal fakta, tetapi juga soal siapa yang mampu menguasai cerita. Di situlah jurnalisme diuji. Apakah ia tetap menjadi alat pencari kebenaran, atau justru berubah menjadi bagian dari mesin propaganda.
Membaca buku bukan sekadar aktivitas sunyi. Ia adalah gerakan jangka panjang—perlawanan diam-diam terhadap kebodohan yang dipelihara, terhadap informasi yang dimanipulasi, dan terhadap dunia yang terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Sebab pada akhirnya, perang terbesar dalam jurnalisme bukan hanya tentang berita yang ditulis, tetapi tentang pikiran yang berani tetap merdeka.
