Negara dalam Genggaman Pasar kapitalisme,para penyembah Data

Kami hidup di zaman ketika data disembah lebih khusyuk daripada Tuhan.

Klik menjadi doa, algoritma menjadi kitab suci, dan grafik pertumbuhan dipuja seperti patung emas yang tak boleh disentuh akal sehat.

Kapitalisme hari ini tidak lagi berdiri sebagai sistem—ia menyamar sebagai takdir.

Ia masuk ke tubuh manusia lewat ponsel, mencatat napas, selera, amarah, bahkan kesedihan. Semua direkam, ditimbang, lalu dijual kembali dalam bentuk ilusi kebahagiaan. Manusia tidak lagi warga negara, tapi produk mentah.

Di kepala terlintas kisah lama: Ibrahim dan patung-patungnya.

Patung-patung itu tidak bergerak, tapi hari ini patung kapitalisme justru lincah—berpindah server, bersembunyi di cloud, tersenyum lewat iklan bertagar empati. Jika dulu patung dihancurkan dengan kapak, sekarang ia hidup dalam kontrak, regulasi, dan Terms & Conditions yang tak pernah dibaca.

Pertanyaannya bukan lagi siapa berani menghancurkan patung,

tapi siapa yang masih sadar sedang menyembahnya.

Apakah kita mampu melawan para penyembah kapitalisme?

Jawabannya pahit: tidak sepenuhnya, dan hampir mustahil. Sistem ini terlalu rapi, terlalu dalam, terlalu sabar. Bahkan seorang nabi—dalam kisahnya—tidak melawan dengan ketenangan, tapi dengan kemarahan simbolik. Ia tidak berdialog dengan patung. Ia menghantamnya.

Maka jangan berharap jurnalis—makhluk yang hidup dari deadline, klik, dan honor receh—memiliki kesabaran yang lebih suci. Jurnalis hari ini menulis di dalam kandang yang sama dengan yang ia kritik. Setiap kata perlawanan tetap harus lolos SEO, tetap harus ramah iklan, tetap harus “aman bagi brand”.

Inilah ironi paling busuk:

perlawanan pun dipaketkan sebagai konten.

Gonzo tidak menawarkan solusi. Gonzo hanya menolak pura-pura waras.

Menulis sambil sadar bahwa setiap kalimat mungkin ikut menggemukkan monster yang sedang dikritik. Tapi diam jauh lebih kejam—karena diam adalah bentuk ibadah paling setia bagi kapitalisme.

Jika patung-patung itu tidak bisa dihancurkan,

setidaknya ditertawakan, dibongkar kepalsuannya, dan ditelanjangi kepura-puraannya.

Dan mungkin, di sela kekalahan itu,

menulis masih bisa menjadi tindakan kecil yang tidak sepenuhnya tunduk.

Kapitalisme tidak lagi datang dengan wajah penjajah.

Ia masuk dengan seragam pendidikan, berbicara tentang akreditasi, ranking, dan “daya saing global”. Sekolah berubah menjadi pabrik sertifikat; kampus menjadi bursa tenaga kerja; murid tidak lagi dibentuk sebagai manusia merdeka, tapi aset siap pakai. Nilai bukan lagi soal benar–salah, melainkan laku atau tidak laku.

Bahkan pesantren—ruang terakhir yang dulu menjaga jarak dari pasar—mulai dihitung dengan logika yang sama. Santri menjadi statistik, kurikulum ditakar dengan peluang pendanaan, dan keberkahan digeser menjadi proposal. Kitab masih dibaca, tapi ruhnya terjebak di antara laporan keuangan dan program serapan anggaran.

Di birokrasi, kapitalisme bekerja lebih rapi.

Setiap satu orang bukan lagi warga, melainkan unit data anggaran. Semakin banyak kepala, semakin besar proyek. Rakyat hidup sebagai angka—dihimpun, diolah, lalu dipresentasikan dalam slide rapat. Kepedulian diukur bukan dari keadilan, tapi dari berapa persen anggaran terserap.

Politik lalu menyempurnakan semuanya.

Ideologi tak lagi lahir dari keyakinan, tapi dari survei. Kebenaran tunduk pada elektabilitas. Rakyat bukan subjek perubahan, melainkan pasar suara yang bisa dipetakan, disegmentasi, dan dibeli dengan narasi sementara. Demokrasi berubah menjadi iklan berjangka lima tahunan.

Di titik ini, furqon aqidah menghilang.

Bukan hanya aqidah agama, tapi aqidah ideologi dan aqidah kebangsaan. Tak ada lagi garis tegas antara haq dan batil—yang ada hanya efektif dan tidak efektif, viral atau tenggelam, menguntungkan atau merugikan. Segalanya cair, selama bisa dijual.

Bangsa berdiri tanpa kompas.Negara berjalan tanpa keyakinan.Dan manusia hidup tanpa keberanian untuk berkata: cukup.

Kapitalisme tidak merusak dengan menghancurkan;ia merusak dengan membiasakan.

Ketika semua sudah terasa normal, di situlah aqidah benar-benar mati—bukan karena diserang, tapi karena ditukar dengan kenyamanan.

Maka lengkaplah lingkarannya.

Pendidikan mencetak pola pikir, pesantren menormalisasi sistem, birokrasi mengelola tubuh, dan politik mengatur arah—semuanya bergerak dalam satu irama: kapitalisme sebagai iman baru. Tidak perlu dipaksakan, karena sejak awal manusia sudah diajari untuk patuh pada angka.

Setiap individu lahir dengan nama,

lalu perlahan dilucuti menjadi NIK, NISN, NPSN, NPWP, DPT, dan deretan kode lain yang lebih penting daripada suara nurani. Tubuh manusia tidak lagi dihormati sebagai amanah, melainkan wadah anggaran. Jika tidak terdata, tidak dianggap ada. Jika tidak produktif, disingkirkan secara halus.

Di sinilah furqon benar-benar runtuh.

Batas antara iman dan kepentingan kabur, antara perjuangan dan proyek sulit dibedakan. Semua dibungkus bahasa moral, tapi digerakkan oleh logika pasar. Bahkan kebaikan pun harus punya indikator kinerja.

Kapitalisme tidak memusuhi aqidah—
ia menggunakannya.
Simbol-simbol agama dipoles agar ramah sponsor, jargon kebangsaan diproduksi ulang agar laku di panggung politik. Yang penting bukan kebenaran, tapi keterjangkauan. Bukan keteguhan, tapi fleksibilitas.
Pada titik ini, bertanya “apakah bisa melawan?” terasa naif.

Sistem ini tidak berdiri di luar manusia ia hidup di dalam kepala, di dalam cara berpikir, di dalam ketakutan untuk keluar dari arus. Bahkan kritik terhadap kapitalisme sering berakhir menjadi konten yang dimonetisasi.
Seperti Ibrahim di hadapan patung-patungnya,masalahnya bukan pada kapak, tapi pada kesepakatan sosial untuk terus menyembah. Patung hari ini tidak perlu dihancurkan secara fisik; ia cukup dibiarkan berdiri di server, di regulasi, di kurikulum, dan di mimbar.
Maka jurnalisme yang tersisa bukan jurnalisme pahlawan.

Ia jurnalisme orang kalah yang masih berani menulis. Menulis bukan untuk menang, tapi untuk menolak lupa. Menulis sebagai gangguan kecil dalam sistem yang ingin segalanya rapi dan jinak.

Jika furqon sudah hilang dari aqidah, ideologi, dan tatanan bangsa,
maka menulis menjadi upaya terakhir untuk menarik garis tipis—meski hanya di atas kertas—antara manusia dan pasar.

Dan mungkin, di zaman ketika segalanya bisa dijual,
menolak untuk sepenuhnya laku adalah satu-satunya bentuk iman yang tersisa.

Red

Admin
Author: Admin

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *