Bandung — Ada yang berbeda dalam gelaran Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi untuk pegiat literasi yang berlangsung pada Rabu, 29 April 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB ini dilaksanakan di Aula Grha Pustaloka, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat, Jalan Kawaluyaan Indah II No. 4, Soekarno Hatta, Bandung.
Di antara deretan peserta yang datang dengan latar belakang beragam, hadir satu semangat yang lahir dari jalanan, tumbuh di ruang-ruang sederhana, dan kini berdiri sejajar dalam forum literasi:
Kehadiran Satria Budiman, atau yang lebih akrab disapa Yoyot, yang hadir mewakili Komunitas Sakabaca sekaligus membawa nama Forum Taman Baca Garut. Kehadirannya bukan sekadar formalitas, tetapi membawa cerita panjang tentang bagaimana literasi bisa tumbuh dari tempat yang seringkali luput dari perhatian.
Sakabaca sendiri lahir di Bandung pada 22 Mei 2016. Didirikan dengan berbagai orang dan daerah yang berbeda dari kumpulan mahasiswa ,pedagang kaki lima dan anak jalanan ,semangatnya sederhana membawa bacaan ke mereka yang jauh dari akses komunitas ini perlahan menapaki jalannya. Kini, Sakabaca tersebar dengan banyak anggota yang berasal dari jalanan hingga pelosok daerah hususnya di Bungbulang Garut yang mendirikan Taman baca masyarakat sebagai tempat pulang kami saat ini , Mereka adalah anak-anak jalanan, relawan akar rumput, hingga pegiat literasi di kampung-kampung yang bergerak dengan cara mereka sendiri: sederhana, tapi nyata.
Yoyot, seorang seniman jalanan, bukan nama baru di lingkaran ini. Jalanan adalah sekolah pertamanya, seni adalah bahasanya, dan literasi menjadi jembatan yang ia bangun untuk banyak orang. Dari Bandung, semangat itu menjalar hingga ke Garut, tempat di mana kini berdiri Taman Baca Sakabaca ruang sederhana yang menjadi titik temu antara buku dan harapan.
Dalam kegiatan Bimtek ini, Yoyot tidak hanya hadir sebagai peserta. Ia membawa suara dari lapisan yang seringkali tidak terdengar. Baginya, literasi bukan hanya soal teori dan konsep, tapi tentang bagaimana informasi bisa benar-benar sampai dan dipahami oleh mereka yang hidup di pinggiran.
“Ini bukan sekadar kegiatan, ini ruang untuk saling menguatkan,” menjadi semangat yang dibawa Sakabaca dalam forum tersebut.
Di forum ini pula, para peserta mendapatkan materi dari narasumber seperti Dr. Hj. Oom Nurohmah, M.Si., Tuty Juliaty, S.Sos., M.M.Pd., dan Dra. Hj. Siti Duwariah, M.M., yang membedah literasi informasi dari berbagai sisi—dari konsep dasar hingga praktik di lapangan.
Namun bagi Komunitas Sakabaca, yang terpenting bukan hanya apa yang didapat di ruangan, tapi apa yang bisa dibawa pulang. Ke gang-gang kecil, ke anak-anak yang belajar di lantai, hingga ke pelosok yang jauh dari fasilitas.
Dengan bangga, Sakabaca menjadi bagian dari kegiatan ini. Bukan karena besar namanya, tapi karena panjang perjalanannya.
Terimaksih juga untuk forum taman baca Garut yang mewakilkan komunitas sakabaca untuk hadir dan menjadi pengalaman buat kita.
Dari Bandung Garut dari jalanan, dari pelosok Sakabaca terus berjalan. Dan di ruang Aula Grha Pustaloka hari itu, langkah kecil itu terasa semakin berarti.













