Sakabaca lahir pada 22 Juni 2016, dari kegelisahan anak-anak muda di Kota Bandung. Kami adalah mereka yang punya mimpi untuk kuliah, tapi terhenti oleh biaya. Kami datang dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, lalu bertahan hidup dengan berdagang di jalanan sebagai pedagang kaki lima.
Sejak 2013, ketika Bandung dipimpin wali kota baru, penertiban PKL dilakukan besar-besaran.Hampir setiap hari terjadi keributan. Kami berdagang dengan rasa waswas—seolah setiap pagi adalah ancaman. Dagangan ditendang, gerobak diseret, barang diangkut, tanpa dialog. Satpol PP datang bukan sebagai pelindung, tapi sebagai algojo kebijakan. Kami dipukul oleh aturan yang tak pernah mau mendengar.
Kami berdagang seperti orang yang hidup di negeri penjajahan.
Bekerja, tapi dianggap gangguan.
Hidup, tapi tak diakui.
Demo terjadi berulang kali. Kami turun ke jalan memperjuangkan hak paling dasar: hak untuk hidup dan bekerja. Tapi suara kami kalah oleh baliho, kalah oleh narasi “penataan kota”, kalah oleh kamera yang hanya merekam sisi indah pembangunan.
Di tengah tekanan itu, satu nyawa melayang—seorang pedagang memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan setelah kehilangan pekerjaannya. Tidak ada berita. Tidak ada liputan. Tidak ada yang merasa bertanggung jawab.
Di situlah kami sadar: kegelisahan kami tidak akan diwakili siapa pun.
Pendidikan yang dirampas tidak membuat kami berhenti. Anak-anak yang terpinggirkan ini memilih berkumpul dan membangun komunitas: Sakabaca, komunitas literasi dan perpustakaan jalanan.
Kami bergerak dari pedagang ke pedagang, dari trotoar ke trotoar. Kami membaca bersama, berdiskusi, dan menjadikan jalanan sebagai ruang belajar.
Saat media memilih diam, kami memilih menulis.Membaca adalah perlawanan, dan menulis adalah senjatanya.
Sejak 2016, Sakabaca terus bergerak—bukan sekadar komunitas literasi, tapi ruang untuk membongkar kenyataan bahwa sistem negara ini tidak sedang baik-baik saja.
Kami belajar memahami kekuasaan dari luka, melihat kebijakan dari perut yang lapar, dan membaca negara dari trotoar.
Hari ini, gerakan itu kami hidupkan kembali.
Sakabaca hadir sebagai wadah pemikiran, media pemahaman, dan ruang kritik.
Karena bagi kami, mencintai negara bukan berarti diam—melainkan berani membayar idealisme dengan perlawanan terhadap ketidakadilan.
