MUHAMMAD & MARX: TITIK TEMU KEADILAN SOSIAL DALAM MELAWAN KAPITALISME

Apa yang bisa menyatukan Nabi Muhammad dan Karl Marx?
Pertanyaan ini mungkin terdengar provokatif. Namun justru di situlah letak pentingnya: membuka ruang dialog, bukan untuk menyamakan akidah dan ideologi, tetapi untuk menelaah nilai-nilai yang berbicara tentang keadilan dan pembelaan terhadap kaum tertindas.

Nabi Muhammad hadir di tengah masyarakat Mekah yang timpang—ketika kekayaan berputar di kalangan elite, perbudakan dianggap biasa, dan kaum lemah tidak memiliki suara.

Risalah Islam datang membawa koreksi sosial: zakat diwajibkan, riba dilarang, budak dibebaskan, dan kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh harta maupun nasab, melainkan takwa.

Berabad-abad kemudian, Karl Marx muncul di tengah revolusi industri Eropa. Ia menyaksikan buruh bekerja panjang tanpa perlindungan, kekayaan terkonsentrasi pada pemilik modal, dan manusia direduksi menjadi alat produksi. Marx mengkritik eksploitasi dan menyerukan sistem yang lebih adil bagi kelas pekerja.

Di titik ini, keduanya berbicara tentang satu hal yang sama: perlawanan terhadap penindasan dan ketimpangan.
Islam menegaskan bahwa harta tidak boleh beredar di kalangan orang kaya saja. Islam juga mengenal konsep kepemilikan bersama atas sumber daya publik, sebagaimana hadis: “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” Prinsip ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar tidak boleh dimonopoli demi keuntungan segelintir orang.

Namun penting dicatat, Islam dan Marxisme berdiri di fondasi yang berbeda. Islam bertumpu pada tauhid dan wahyu; Marxisme bertumpu pada materialisme historis. Islam tidak menghapus kepemilikan pribadi, tetapi mengaturnya dengan tanggung jawab moral dan sosial. Sementara Marxisme mengkritik struktur kepemilikan sebagai akar ketimpangan.

Maka, membandingkan keduanya bukan untuk mencampuradukkan, melainkan untuk memperkaya diskursus: bahwa perjuangan melawan eksploitasi adalah nilai universal yang melampaui sekat zaman.

Di tengah kapitalisme global hari ini—ketika pendidikan, kesehatan, bahkan data manusia menjadi komoditas—pertanyaan tentang keadilan kembali relevan. Apakah sistem ekonomi kita memuliakan manusia, atau justru memperalatnya?

Narasi ini bukan untuk membenturkan iman dengan ideologi. Ia adalah ajakan berpikir: bahwa agama tidak boleh diam terhadap ketidakadilan, dan kritik sosial tidak harus memusuhi spiritualitas.
Sebab pada akhirnya, peradaban yang besar bukan hanya tentang pertumbuhan, tetapi tentang keberpihakan.

Admin
Author: Admin

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *