SAKABACA.ONLINE – Ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda. Setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, arah konflik justru semakin mengeras.
Kepemimpinan baru di Iran menegaskan tidak ada ruang negosiasi dengan Washington dalam situasi perang. Bagi Teheran, serangan yang menewaskan Khamenei bukan sekadar operasi militer, melainkan deklarasi perang terbuka yang harus dibalas.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menegaskan negaranya tak akan melanjutkan negosiasi dengan AS usai kematian Khamenei.
“Kami tidak akan negosiasi dengan Amerika Serikat,” kata Larijani dalam unggahan di X, Senin (2/3).
Pernyataan tersebut sekaligus mematahkan harapan sebagian pihak internasional yang berharap jalur diplomasi segera dibuka untuk meredakan eskalasi. Iran menilai kondisi saat ini tidak memungkinkan dialog, karena agresi masih berlangsung dan serangan balasan terus dilakukan di berbagai titik strategis kawasan.
Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan bahwa operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung beberapa minggu. Ia bahkan menyebut situasi berkembang “sangat positif”, meski laporan korban jiwa di pihak militer AS mulai muncul dan kritik dari dalam negeri bermunculan.
Dengan Iran menutup pintu perundingan dan AS terus melanjutkan operasi tempurnya, sinyal perang berkepanjangan semakin nyata. Sejumlah negara di kawasan Teluk ikut terseret, baik sebagai lokasi pangkalan militer maupun sebagai pihak yang terdampak langsung serangan rudal dan drone.
Konflik ini kini bukan lagi sekadar balas-membalas serangan, melainkan pertarungan geopolitik yang berpotensi meluas. Dunia menanti apakah akan muncul terobosan diplomatik di tengah tekanan global, atau justru Timur Tengah memasuki fase perang panjang yang sulit dihentikan dalam waktu dekat.
Author: Admin
Penulis
